Tampilkan postingan dengan label makrifat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makrifat. Tampilkan semua postingan
Jumat, 18 Januari 2013
[2] 30. Nikmatnya Dekat Kepada Allah dan Pahitnya Jauh Dari-Nya
Asy Syibli pernah berkata sebagai berikut :
"Apabila kamu telah merasakan nikmatnya dekat kepada Allah, niscaya kamu tahu bagaimana rasanya jika jauh dari-Nya."
Maksudnya, jika seandainya kita telah merasakan betapa nikmatnya dekat kepada Allah SWT, tentu kita bisa membayangkan bagaimana pahitnya jika kita harus berpisah dengan Allah SWT. Memang, menurut orang yang sudah merasakan betapa nikmatnya dekat kepada Allah, bahwa jauh dari Allah itu adalah merupakan siksaan yang paling berat.
Karenanya Rasulullah saw senantiasa memanjatkan doa :
"Ya Allah, anugrahkanla kepada kami kelezatan memandang wajah-Mu Yang Maha Mulia dan kenikmatan rasa rindu berjumpa dengan-Mu."
Sabtu, 08 Desember 2012
[2] 23. Tanda-tanda Makrifat dan Adanya Kehidupan
Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian hukama berikut ini :
"Perbuatan seseorang dalam melakukan ketaatan itu menunjukkan adanya makrifat (dalam dirinya), sebagaimana gerakan badan menunjukkan adanya kehidupan."
Makrifat adalah mengenal Zat Allah lebih dekat dengan segala bentuk keagungan, kebesaran dan kekuasaan-Nya. Apabila seorang hamba berbuat ketaatan kepada Allah, maka hal itu menunjukkan tentang adanya pengetahuan tentang zat Allah dalam dirinya. Dan apabila semakin banyak dalam berbuat ketaatan, maka semakin dalam pula pengetahuannya akan zat Allah.
Sebaliknya, apabila ia jarang dalam berbuat ketaatan, maka berarti tidak ada kemakrifatan dalam dirinya. Karena perbuatan lahir itu merupakan cermin dari sikap batinnya.
Selasa, 27 November 2012
[2] 13. Keinginan Ahli Makrifat dan Ahli Zuhud
Sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah pernyataan berikut ini :
"Keinginan ahli makrifat itu adalah memuji,sedang keinginan ahli zuhud itu adalah berdoa, kerena keinginan orang yang arif adalah untuk mendapatkan pahala Allah, sedang orang yang zuhud adalah kemanfaatan dirinya."
Orang yang arif menghabiskan hari-harinya untuk mengagungkan sifat-sifat Allah swt. Sedang orang yang zuhud (meninggalkan segala bentuk urusan dunia), itu selain berdoa, ia juga senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah demi untuk mendapatkan kebaikan dari-Nya.
Orang yang arif tidak pernah memikirkan pahala dan surga yang akan didapatnya, ia hanya memikirkan tentang keagungan Tuhannya. Sedang orang yang zuhud itu selalu mencari untuk kemaslahatan dirinya sendiri, yaitu pahala dan surga. Jadi, perbedaan antara keduanya itu, jika zuhud tujuannya tidak lain bagaimana caranya ia bisa mendapatkan bidadari. Sedangkan tujuan orang yang arif itu adalah bagaimana caranya agar ia terhindar dari segala bentuk penghalang (tirai).
"Keinginan ahli makrifat itu adalah memuji,sedang keinginan ahli zuhud itu adalah berdoa, kerena keinginan orang yang arif adalah untuk mendapatkan pahala Allah, sedang orang yang zuhud adalah kemanfaatan dirinya."
Orang yang arif menghabiskan hari-harinya untuk mengagungkan sifat-sifat Allah swt. Sedang orang yang zuhud (meninggalkan segala bentuk urusan dunia), itu selain berdoa, ia juga senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah demi untuk mendapatkan kebaikan dari-Nya.
Orang yang arif tidak pernah memikirkan pahala dan surga yang akan didapatnya, ia hanya memikirkan tentang keagungan Tuhannya. Sedang orang yang zuhud itu selalu mencari untuk kemaslahatan dirinya sendiri, yaitu pahala dan surga. Jadi, perbedaan antara keduanya itu, jika zuhud tujuannya tidak lain bagaimana caranya ia bisa mendapatkan bidadari. Sedangkan tujuan orang yang arif itu adalah bagaimana caranya agar ia terhindar dari segala bentuk penghalang (tirai).
Kamis, 15 November 2012
[2]. 2. Dekat dengan Ulama dan Memperhatikan Nasihat Hukama
Nabi saw bersabda :
"Hendaklah kalian bergaul dengan ulama dan mendengarkan ucapan hukama, karena Allah ta'ala menghidupkan kembali hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaiman Dia menghijaukan tanah gersang dengan air hujan."
Hikmah adalah ilmu yang bermanfaat, sedang hukama adalah orang-orang ahli hikmah. Dalam hadis ini hukama ialah ahli hikmah yang mengerahui Dzat Allah ta'ala, selalu tepat ucapan dan perbuatannya.
Sedangkan ulama, adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya.
Dalam riwayat Ath-Thabrani dari Abi Hanifah disebutkan: "Hendaklah kalian bergaul dengan para pemimpin, bertanyalah kalian kepada para ulama dan bergaulah kalian dengan hukama."
Menurut riwayat lain : "Bergaullah dengan ulama, bersahabatlah dengan hukama dan berkumpullah dengan kubaro."
Ulama itu terbagi tiga, yaitu :
1. Ulama, yaitu orang yang alim tentang hukum-hukum Allah swt, mereka berhak memberikan fatwa.
2. Hukama, yatu orang-orang yang mengetahui Dzat Allah saja. Bergaul dengan mereka membuat akhlak menjadi terdidik, karena dari hati mereka bersinar cahaya makrifat (mengenali Allah dan rahasia-rahasia) dan dari jiwa mereka membias keagungan Allah.
3. Kubaro, yaitu orang yang diberi anugrah keduanya.
Bergaul akrab dengan ahli Allah akan mendatangkan tingkah laku yang baik. Hal ini karena mengambil manfaat dengan pandangan itu lebih baik daripada dengan lisan. Jadi seorang yang pandangannya bermanfaat kepadamu, niscaya bermanfaat pula ucapannya bagimu. Sebaliknya, jika pandangannya tidak bermanfaat, maka tidak bermanfaat pula ucapannya.
As-Sahrawardi berkunjung ke sebagian mesjid Al-Khaif di Mina sambil memandang wajah orang-orang yang ada di sana. beliau ditanya oleh seseorang: Mengapa tuan memandang wajah orang-orang?
Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah memiliki beberapa orang yang jika memandang orang lain maka akan mendatangkan kebahagian bagi yang dipandang dan aku mencari orang yang seperti itu.
Nabi saw bersabda: "Akan datang suatau zaman kepada umatku, mereka lari dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam bencana kepada mereka: Pertama, dicabut kembali berkah dari usahanya; kedua, Dia kuasakan penguasa zalim atas mereka; ketiga, mereka meninggal dunia tanpa membawa iman."
"Hendaklah kalian bergaul dengan ulama dan mendengarkan ucapan hukama, karena Allah ta'ala menghidupkan kembali hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaiman Dia menghijaukan tanah gersang dengan air hujan."
Hikmah adalah ilmu yang bermanfaat, sedang hukama adalah orang-orang ahli hikmah. Dalam hadis ini hukama ialah ahli hikmah yang mengerahui Dzat Allah ta'ala, selalu tepat ucapan dan perbuatannya.
Sedangkan ulama, adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya.
Dalam riwayat Ath-Thabrani dari Abi Hanifah disebutkan: "Hendaklah kalian bergaul dengan para pemimpin, bertanyalah kalian kepada para ulama dan bergaulah kalian dengan hukama."
Menurut riwayat lain : "Bergaullah dengan ulama, bersahabatlah dengan hukama dan berkumpullah dengan kubaro."
Ulama itu terbagi tiga, yaitu :
1. Ulama, yaitu orang yang alim tentang hukum-hukum Allah swt, mereka berhak memberikan fatwa.
2. Hukama, yatu orang-orang yang mengetahui Dzat Allah saja. Bergaul dengan mereka membuat akhlak menjadi terdidik, karena dari hati mereka bersinar cahaya makrifat (mengenali Allah dan rahasia-rahasia) dan dari jiwa mereka membias keagungan Allah.
3. Kubaro, yaitu orang yang diberi anugrah keduanya.
Bergaul akrab dengan ahli Allah akan mendatangkan tingkah laku yang baik. Hal ini karena mengambil manfaat dengan pandangan itu lebih baik daripada dengan lisan. Jadi seorang yang pandangannya bermanfaat kepadamu, niscaya bermanfaat pula ucapannya bagimu. Sebaliknya, jika pandangannya tidak bermanfaat, maka tidak bermanfaat pula ucapannya.
As-Sahrawardi berkunjung ke sebagian mesjid Al-Khaif di Mina sambil memandang wajah orang-orang yang ada di sana. beliau ditanya oleh seseorang: Mengapa tuan memandang wajah orang-orang?
Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah memiliki beberapa orang yang jika memandang orang lain maka akan mendatangkan kebahagian bagi yang dipandang dan aku mencari orang yang seperti itu.
Nabi saw bersabda: "Akan datang suatau zaman kepada umatku, mereka lari dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam bencana kepada mereka: Pertama, dicabut kembali berkah dari usahanya; kedua, Dia kuasakan penguasa zalim atas mereka; ketiga, mereka meninggal dunia tanpa membawa iman."
Langganan:
Postingan (Atom)