Tampilkan postingan dengan label hukama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hukama. Tampilkan semua postingan
Rabu, 28 November 2012
[2] 14. Orang yang Dangkal Pengetahuannya dan yang Belum Mengenal Dirinya
Sebagaimana yang diterangkan dari sebagian hukama berikut ini :
"Barangsiapa mengira, bahwa penolongnyalah yang lebih kuat dari Allah, maka sedikit sekali pengetahuannya tentang Dzat Allah swt. Dan barangsiapa mengira bahwa musuhnya itu lebih kejam dari nafsunya, maka berarti pengetahuan tentang dirinya sendiri hanyalah sedikit."
Barangsiapa menyangka bahwa ada penolong lain selain Allah swt yang lebih dekat kepada dirinya dan lebih banyak pertolongannya, maka berarti ia jauh dari Allah (karena tidak mengetahui-Nya). Adapun orang yang tidak memahami akan kekuatan (keganasan) hawa nafsunya sendiri yang selalu membimbingnya ke dalam perbuatan dosa, berarti ia tidak menyadari bahwa musuhnya yang paling jahat itu sebenarnya adalah nafsunya sendiri.
Minggu, 25 November 2012
[2] 11. Larangan Menganggap Ringan Dosa Kecil
Diriwayatkan dari sebagian Hukama sebagai berikut :
"Janganlah kalian menganggap ringan dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya dari situlah lahirnya dosa-dosa besar."
Bahkan kemurkaan (azab) Allah itu pun kadan-kadang ditimpakan karena sebab dosa kecil.
"Janganlah kalian menganggap ringan dosa-dosa kecil, karena sesungguhnya dari situlah lahirnya dosa-dosa besar."
Bahkan kemurkaan (azab) Allah itu pun kadan-kadang ditimpakan karena sebab dosa kecil.
Kamis, 15 November 2012
[2]. 2. Dekat dengan Ulama dan Memperhatikan Nasihat Hukama
Nabi saw bersabda :
"Hendaklah kalian bergaul dengan ulama dan mendengarkan ucapan hukama, karena Allah ta'ala menghidupkan kembali hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaiman Dia menghijaukan tanah gersang dengan air hujan."
Hikmah adalah ilmu yang bermanfaat, sedang hukama adalah orang-orang ahli hikmah. Dalam hadis ini hukama ialah ahli hikmah yang mengerahui Dzat Allah ta'ala, selalu tepat ucapan dan perbuatannya.
Sedangkan ulama, adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya.
Dalam riwayat Ath-Thabrani dari Abi Hanifah disebutkan: "Hendaklah kalian bergaul dengan para pemimpin, bertanyalah kalian kepada para ulama dan bergaulah kalian dengan hukama."
Menurut riwayat lain : "Bergaullah dengan ulama, bersahabatlah dengan hukama dan berkumpullah dengan kubaro."
Ulama itu terbagi tiga, yaitu :
1. Ulama, yaitu orang yang alim tentang hukum-hukum Allah swt, mereka berhak memberikan fatwa.
2. Hukama, yatu orang-orang yang mengetahui Dzat Allah saja. Bergaul dengan mereka membuat akhlak menjadi terdidik, karena dari hati mereka bersinar cahaya makrifat (mengenali Allah dan rahasia-rahasia) dan dari jiwa mereka membias keagungan Allah.
3. Kubaro, yaitu orang yang diberi anugrah keduanya.
Bergaul akrab dengan ahli Allah akan mendatangkan tingkah laku yang baik. Hal ini karena mengambil manfaat dengan pandangan itu lebih baik daripada dengan lisan. Jadi seorang yang pandangannya bermanfaat kepadamu, niscaya bermanfaat pula ucapannya bagimu. Sebaliknya, jika pandangannya tidak bermanfaat, maka tidak bermanfaat pula ucapannya.
As-Sahrawardi berkunjung ke sebagian mesjid Al-Khaif di Mina sambil memandang wajah orang-orang yang ada di sana. beliau ditanya oleh seseorang: Mengapa tuan memandang wajah orang-orang?
Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah memiliki beberapa orang yang jika memandang orang lain maka akan mendatangkan kebahagian bagi yang dipandang dan aku mencari orang yang seperti itu.
Nabi saw bersabda: "Akan datang suatau zaman kepada umatku, mereka lari dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam bencana kepada mereka: Pertama, dicabut kembali berkah dari usahanya; kedua, Dia kuasakan penguasa zalim atas mereka; ketiga, mereka meninggal dunia tanpa membawa iman."
"Hendaklah kalian bergaul dengan ulama dan mendengarkan ucapan hukama, karena Allah ta'ala menghidupkan kembali hati yang mati dengan cahaya hikmah, sebagaiman Dia menghijaukan tanah gersang dengan air hujan."
Hikmah adalah ilmu yang bermanfaat, sedang hukama adalah orang-orang ahli hikmah. Dalam hadis ini hukama ialah ahli hikmah yang mengerahui Dzat Allah ta'ala, selalu tepat ucapan dan perbuatannya.
Sedangkan ulama, adalah orang alim yang mengamalkan ilmunya.
Dalam riwayat Ath-Thabrani dari Abi Hanifah disebutkan: "Hendaklah kalian bergaul dengan para pemimpin, bertanyalah kalian kepada para ulama dan bergaulah kalian dengan hukama."
Menurut riwayat lain : "Bergaullah dengan ulama, bersahabatlah dengan hukama dan berkumpullah dengan kubaro."
Ulama itu terbagi tiga, yaitu :
1. Ulama, yaitu orang yang alim tentang hukum-hukum Allah swt, mereka berhak memberikan fatwa.
2. Hukama, yatu orang-orang yang mengetahui Dzat Allah saja. Bergaul dengan mereka membuat akhlak menjadi terdidik, karena dari hati mereka bersinar cahaya makrifat (mengenali Allah dan rahasia-rahasia) dan dari jiwa mereka membias keagungan Allah.
3. Kubaro, yaitu orang yang diberi anugrah keduanya.
Bergaul akrab dengan ahli Allah akan mendatangkan tingkah laku yang baik. Hal ini karena mengambil manfaat dengan pandangan itu lebih baik daripada dengan lisan. Jadi seorang yang pandangannya bermanfaat kepadamu, niscaya bermanfaat pula ucapannya bagimu. Sebaliknya, jika pandangannya tidak bermanfaat, maka tidak bermanfaat pula ucapannya.
As-Sahrawardi berkunjung ke sebagian mesjid Al-Khaif di Mina sambil memandang wajah orang-orang yang ada di sana. beliau ditanya oleh seseorang: Mengapa tuan memandang wajah orang-orang?
Beliau menjawab: Sesungguhnya Allah memiliki beberapa orang yang jika memandang orang lain maka akan mendatangkan kebahagian bagi yang dipandang dan aku mencari orang yang seperti itu.
Nabi saw bersabda: "Akan datang suatau zaman kepada umatku, mereka lari dari para ulama dan fuqoha, maka Allah akan menurunkan tiga macam bencana kepada mereka: Pertama, dicabut kembali berkah dari usahanya; kedua, Dia kuasakan penguasa zalim atas mereka; ketiga, mereka meninggal dunia tanpa membawa iman."
Langganan:
Postingan (Atom)