Tampilkan postingan dengan label bodoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bodoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 Desember 2012

[2] 26. Kufur Nikmat dan Berteman dengan Orang Bodoh


Dikatakan oleh sebagian Hukama:

"Kufur nikmat itu merupakan kehinaan dan berteman dengan orang yang bodoh itu adalah merupakan bentuk kesialan."

Orang yang tidak mau mensyukuri segala apa yang telah dianugerahkan oleh Allah atas dirinya, itu menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang hina, demikian halnya bersahabat dengan orang yang bodoh, yaitu orang yang tidak dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya, meskipun sebenarnya ia tahu akan kesalahannya.

Dalam hal ini, Ath Thabrani meriwayatkan dari Basyir, bahwa Rasulullah saw. bersabda :
"Hendaklah kamu tidak berteman dengan orang yang bodoh."

Memutuskan hubungan dengan orang yang tidak bermanfaat, maksudnya adalah tidak berteman dengan orang-orang yang  berakhlak jelek (tidak memiliki tata krama) dengan tujuan menghindari kejelekan perangainya, karena perangai (watak) seseorang itu lambat laun akan berpengaruh juga pada orang-orang yang berada di dekatnya.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi dari Ibnu Umar ra. bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw. bersabda:

"Dua perkara, yang barangsiapa dapat memiliki keduanya, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang ahli syukur dan sabar. Dan barangsiapa yang tidak dapat memiliki keduanya, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang tidak tahu balas budi (tidak tahu terima kasih) dan tidak sabar.

Barangsiapa yang selalu membanding-bandingkan kualitas agamanya dengan orang yang berkualitas lebih tinggi, dan jika dalam masalah duniawi ia membandingkannya dengan orang yang lebih rendah, kemudian memuji Allah atas kelebihan yang dimilikinya itu, maka Allah akan mencatatnya sebagai orang yang ahli syukur dan ahli sabar.

Dan barangsiapa yang selalu membanding-bandingkan kualitas agamanya dengan orang yang lebih rendah dan membandingkan urusan dunianya dengan orang yang lebih tinggi, kemudian ia merasa hina karena tidak dapat menandingi kebesaran (kekayaan) orang tersebut, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang tidak tahu terima kasih (tidak tahu sykur) dan tidak sabar."

Hadits ini meliputi segala bentuk kebaikan.

Kamis, 06 Desember 2012

[2] 21. Pandai Cendekia dan Orang yang Bodoh


Sebagaimana yang diterangkan dalam pernyataan berikut :

"Tida pengasingan bagi orang yang pandai dan tiada tanah air bagi orang yang bodoh"

Orang yang mulia adalah orang yang pandai (berilmu) dan senang beramal, ia selalu disanjung dan dihormati orang lain dimanapun ia berada, karena selalu dinanti dan diperlukan kehadirannya. Karenanya, meskipun ia tinggal di negeri orang lain, ia tetap merasa tinggal dirumahnya sendiri. Sedangkan orang yang bodoh, akan merasakan kebalikannya.